Tampilkan postingan dengan label Administrator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Administrator. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Desember 2008

Che Guevara

Che Guevara

Masa muda Ernesto “Che” Guevara adalah sebuah petualangan dan penjelajahan. Meskipun dia dibesarkan di keluarga yang berkecukupan di Argentina dan belajar di bidang kedokteran, dia banyak menghabiskan waktunya untuk mengelilingi Amerika Latin.

Pada tahun 1953 terjadi kekacauan politik di Guetemala. Di tahun 1950 seorang komandan militer sayap kiri, Jacobo Arbenz, terpilih sebagai presiden dan memulai untuk melakukan reformasi politik. Dia meliberalkan hukum-hukum perburuhan, menaikkan upah minimum, mengakhiri represi terhadap aktifitas politik, dan memulai sebuah kebijakan reformasi agraria. Amerika Serikat menjadi cemas.

18 Juni 1954, rombongan pasukan tempur yang diangkut pesawat tempur Amerika menyerbu melalui Honduras. Kaum revolusioner di Guetamala meminta kepada Arbenz untuk mempersenjatai rakyat sebagai alat untuk melawan agresi Amerika, namun sang Presiden Guetemala itu menolaknya. Malahan Arbenz menggunakan satuan tempur reguler Guetemala untuk menghadang invasi. Kesuksesan dalam menghadapi invasi Amerika itu tidak mengurangi ketegangan di Guetamala. Setelah kegagalan invasi yang menggunakan serdadu bayaran itu, imperialis AS melirik kubu sayap kanan militer dan mengagitasinya untuk melakukan kup. Pada 21 Juni, pemerintahan Arbenz ambruk dan dia mengundurkan diri dari jabatannya. Kedudukannya digantikan tokoh militer sayap kanan, Kolonel Monzon. Aktivitas-aktivitas politik yang dilakukan Che di Guatemala mendapat perhatian CIA, yang memasukkan dia dalam daftar orang-orang komunis yang berbahaya yang harus segera diringkus. Informasi ini dibocorkan pejabat kedutaan Argentina, yang menawarkan perlindungan untuk Che. Dari kegagalan pemerintahan Arbenz di Guetemala,Che belajar dua hal penting. Dia menyadari imperialis AS adalah musuh terbesar rakyat Amerika Latin dan kaum revolusioner tidak bisa mengandalkan mesin-mesin negara atau pemerintahan kapitalis, meskipun yang progresif seperti di Guatemala. Tragedi Guetemala meyakinkan Che akan kebutuhan solusi revolusioner untuk memecahkan masalah-masalah Amerika Latin. Dia sekarang menyebut dirinya seorang Marxis dan berargumen seharusnya Arbenz mempersenjatai rakyat untuk melawan agresi yang disponsori imperialis AS.

Che meninggalkan revolusi yang gagal itu dan pergi ke Mexico. Di sana dia ketemu revolusioner Kuba yang sedang dalam pelarian, Fidel dan Raul Castro. Mereka berbincang semalaman dan paginya dia memutuskan untuk bergabung dengan Castro dalam ekspedisi revolusioner ke Kuba. “Setelah pengalaman mengelilingi Amerika dan akhir kudeta di Guetemala, yang kesemuanya tidak begitu menarikku untuk bergabung dengan kaum revolusioner melawan tirani”, begitu Che berkata. Besarnya komitmen Che terhadap Internasionalisme sangat jelas didemonstrasikan tahun 1965, ketika dia secara tegas mengundurkan diri dari pemerintahan dan pergi untuk membantu gerakan revolusiner baru secara pribadi, pertama di Kongo dan kemudian di Bolivia. Saat berada di Bolivia tahun 1967, Che ditangkap CIA yang membekingi tentara Bolivia dan membunuhnya di usia 39 tahun. Tapi saat ini namanya dan reputasinya tertanam dengan kuat, dan wajahnya muncul dalam bendera-bendera, plakat, dan muncul sebagai personifikasi revolusi di dunia.

Oleh : Administrator

Mahasiswa, Politik, dan Partai Politik

Mahasiswa, Politik, dan Partai Politik


Mahasiswa Berpolitik ?

Sebenarnya, kegiatan berpolitik mahasiswa, terbelenggu oleh pikiran mahasiswa itu sendiri yang masih menganggap bahwa “khittah” gerakan mahasiswa adalah gerakan moral dan sebatas agen perubahan masyarakat saja. Politik masih dianggap satu hal yang kotor. Persis seperti anggapan mahasiswa angkatan 66 yang menganggap politik bagai lumpur yang kotor ( istilah Soe Hok Gie, tokoh gerakan mahasiswa angkatan 66 ). Padahal, apa yang mereka lakukan selama ini sebagai bentuk kepedulian mereka misalnya seperti demo menolak impor beras, menolak naiknya harga bahan bakar minyak adalah satu kegiatan berpolitik. Politik berasal dari asal kata “policy” yang artinya kebijakan. Bukankah dengan kegiatan mereka tadi mereka berusaha mempengaruhi “policy” pemerintah alias berpolitik ?. Hanya saja menurut penulis, cara berpolitik mereka tidaklah profesional bahkan cenderung sia-sia. Memposisikan diri sebagai pengawas sosial dari pemerintah dan membatasi diri sekedar sebagai gerakan moral dan gerakan agen perubahan sosial sama saja dengan berteriak di tengah samudra dimana tak seorangpun dapat mendengar. Sebaiknya, Kelompok-kelompok mahasiswa yang masih alergi dengan politik dan partai politik membuang jauh-jauh penyakit alerginya dan dengan sadar dapat merebut kekuasaan demi terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang jauh lebih baik lagi. Tentunya dengan jalan berpolitik melalui partai politik.Orang boleh bilang bahwa mahasiswa yang berpartai politik adalah sekedar ingin memperbaiki nasib pribadi dengan menyembunyikan kepentingannya dibalik kepentingan rakyat miskin. Namun, maafkanlah jika itu tidak benar.Kami menyadari betul bahwa alat perjuangan yang paling cocok dengan iklim demokrasi dan kehidupan modern ini adalah partai politik.Tidak hanya perkara merebut kekuasaan atau membuat kebijakan saja, namun juga perkara memberikan edukasi politik kepada massa mahasiswa dan massa rakyat sehingga tumbuh kesadaran berpoltiknya. Kesadaran politik massa adalah senjata paling efektif untuk menjaga kekuasaan agar tidak disalahgunakan. Salah satu kelebihan daripada mahasiswa berpolitik melalui partai politik adalah mahasiswa justru terbebas dari tunggangan beberapa elit partai-partai besar karena toh setiap partai nantinya harus bertarung dipemilu dan setiap partai memiliki program dan strategi-taktiknya masing-masing. Jadi selamat jalan elit-elit partai besar, kami sudah ( atau akan ) miliki partai kami sendiri.

Oleh : Administrator

Selamatkan Demokrasi di Republik Ini

Selamatkan Demokrasi di Republik Ini


Salam Kebebasan Berpikir !!!!

Hidup Rakyat !!!!!

Telah 10 tahun Reformasi di republik ini terjadi,yang diperjuangkan bersama rakyat (Buruh,tani,kaum miskin kota) dgn Mahasiswa sebagai pelopor gerakan. Telah berhasil membuka kebekuan politik Rezim Orde baru di bawah kepemimpinan Jenderal ( TNI ) Soeharto yang selama 32 tahun berkuasa. Dimana di orde itu kebebasan berkumpul,berserikat,dan mengeluarkan pendapat adalah sebuah hal yang mustahil..Sistem politik pada masa itu hanya mengizinkan berdirinya 2 partai dan satu bukan partai ( PDI,PPP,Golkar) dan hanya organisasi – organisasi yang sejalan dengan ideologi penguasalah yang di biarkan hidup dan ruang demokrasi sangatlah sempit (baca : penuh intimidasi,terror,refresif). Ketika ada kekuatan rakyat atau ide lain selain ide penguasa, pasti langsung dan pasti di berangus dengan berbagai macam alasan politik yang di buat-buat mulai dengan Anti pembangunan,dicap Merongrong Pancasila,Subversif,di cap komunis ( PKI ),pengacau keamanan,di cap islam berhaluan garis keras dsb.. Selain tuduhan-tuduhan diatas juga banyak memakai kekuatan kekerasan lainnya yakni institusi ABRI lengkap dengan lembaga extra yudisialnya (BAIS,BAKORTANASDA,Kopkamtib,Bakin,BIN ) termasuk Milisi-Milisi Sipilnya Bukan Cuma itu kawan !!!,Pers juga di bungkam dan di Kontrol secara ketat oleh Departemen Penerangan dan kalau memberitakan yang buruk tentang penguasa akan segera di bredel (semisal Tempo,Detik,dll) dan menyetel pers untuk kepentingan penguasa dan di gunakan juga untuk mendiskreditkan lawan-lawan politiknya.

Dan memang sangat ironis dan menyedihkan, Padahal dalam konstitusi tertinggi Republik ini yakni UUD 1945 Amandemen ke IV, sangat jelas bahwa ada Jaminan Hak-Hak Dasar Rakyat Termasuk dalam hal politik,yakni pada pasal 27 ayat 2 disebutkan dengan jelas Bahwa “Negara menjamin kemerdekaan, berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat di muka umum “hal serupa juga kita bisa temukan dalam nilai dan prinsip hukum-hukum internasional, sebagai salah satu bentuk hak asazi ( dasar) manusia yang di jamin dan di lindungi oleh Negara. Sekarang muncul pertanyaan,bagaimana kondisi demokrasi di republik ini hari ini, apakah sudah demokratis dan tidak ada lagi pemberangusan politik ???, Bersambung

By. Administrator