Tampilkan postingan dengan label fahruddin fitriya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fahruddin fitriya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2009

Politik dan Mahasiswa*)

Politik dan Mahasiswa*)


Mahasiswa telah terbukti selalu menjadi pelopor dalam sejarah suatu Bangsa. Pada konteks Indonesia, pengalaman empirik juga membenarkan sekaligus mempertegas realitas tersebut. Catatan terkini memperlihatkan bahwa dengan kemahirannya dalam menjalankan fungsi sebagai Intellectual Organic, mahasiswa telah berhasil memporak-porandakan rezim Orde Baru dan menghantarkan Indonesia kedalam suatu era yang saat ini sedang bergulir, yakni: “Orde Reformasi“.


Namun pada sisi yang lain, fakta juga membuktikan bahwa sampai dengan saat ini, mahasiswa Indonesia belum mampu untuk mendongkel antek-antek Orde Baru dari jajaran elite kekuasaan. Padahal sudah menjadi rahasia umum, bahwa kehadiran mereka di situ untuk menutupi segala kebobrokan kolektif yang telah mereka lakukan di masa lalu.


Dengan kenyataan yang demikian, maka tidaklah mengherankan apabila proses reformasi masih tersendat-sendat dan belum dapat berjalan secara linear. Menurut Sebastian de Grazia (1966 : 72-74), kondisi seperti ini secara cepat atau lambat, otomatis akan menimbulkan suatu situasi anomie yang kuat di dalam kehidupan ber-Masyarakat, ber-Bangsa dan ber-Negara, yang pada akhirnya akan berdampak buruk bagi kesejahteraan mayoritas rakyat.


Bertolak dari argumen di atas, maka mahasiswa dituntut/diharapkan dapat terjun ke arena politik dalam rangka mengawal seluruh agenda reformasi, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil di dalam kemakmuran dan makmur di dalam keadilan secara demokratis. Akan tetapi, yang menjadi persoalannya adalah bagaimanakah seharusnya mahasiswa berpolitik….??? dan aksi politik yang bagaimanakah yang harus dilakukan oleh mahasiswa….??


Sebelum menjawab kedua pertanyaan di atas, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa istilah politik dalam tulisan ini dipahami sesuai dengan konsep berpikirnya Antonio Gramsci, sehingga di sini politik didefinisikan sebagai aktivitas pokok manusia dimana manusia dapat mengembangkan kapasitas dan potensi dirinya. (Roger Simon, 1999 : 136).


Jika definisi di atas diejawantahkan dalam bentuk aksi, maka mahasiswa dapat berpolitik dalam dua pengertian, yakni : Pertama, berpolitik dalam arti konsep (Concept). Disini mahasiswa secara individual maupun kelompok, harus mengajukan gagasan, pikiran, solusi atau interpretasi mengenai apa yang menjadi kehendak dari mayoritas rakyat. Kedua, berpolitik dalam arti kebijakan (Belied). Di sini mahasiswa sebagai kelompok harus menjadi Pressure Groups yang memperjuangkan aspirasi rakyat, dengan cara mempengaruhi orang-orang yang memegang kebijakan ataupun yang menjalankan kekuasaan, dari luar sistem kekuasaan.


Apabila mahasiswa berpolitik dalam artian yang pertama, maka mahasiswa dituntut untuk benar-benar memahami cara berpikir ilmiah, yaitu teratur dan sistematik. Sedangkan apabila mahasiswa berpolitik dalam arti kebijakan (Belied), maka mahasiswa harus betul-betul mengetahui posisi individu dalam kehidupan ber-Negara, posisi konstitusi dalam kehidupan ber-Negara, posisi Negara dalam menjalin relasi dengan warganya, konstelasi politik terkini dan menguasai manajemen aksi. Pada tataran ideal, mahasiswa seharusnya berpolitik dalam arti konsep (Concept) maupun dalam arti kebijakan (Belied) secara bersamaan. Ini berarti, mahasiswa harus berpolitik sebagai politisi ekstra perlementer.

APAGUNANYA KITA MEMILIKI SEKIAN RATUS RIBU ALUMNI SEKOLAH YANG CERDAS, TAPI RAKYAT DIBIARKAN BODOH … ??? JIKA KONDISI SEPERTI INI TERUS DIPERTAHANKAN, MAKA SEGERALAH KAUM TERDIDIK ITU AKAN MENJADI PENJAJAH RAKYAT DENGAN MODAL KEPINTARAN MEREKA”

*)Fahruddin Fitriya, Mhs. FH UNNES & FPBS IKIP PGRI Semarang.

SAJAK TANPA KATA

SAJAK TANPA KATA


Inilah kata-kataku yang pertama,

biarlah negeri ini hancur ,

sebab negeri ini sudah carut-marut tak karuan

para senimannya asyik beronani dengan seninya, para elit politiknya ribut tak karuan, mulutnya berbusa, sedangkan tangannya yang hitam

bergentayangan dimana saja

mereka bersilat lidah menyembunyikan tangannya yang berlumur darah dengan meminjam bait-bait suci dari tuhan, negeri ini sudah tak bertuan kawan

sebab, para penguasa hanya sibuk bersuara tanpa makna

karna itu kita mesti kepalkan tinju

memukul mulut mereka yang bau memotong tangan mereka yang penuh dengan dosa, apalagi yang kalian tunggu

menunggu takkan menghasilkan apa-apa, selama badut-badut itu masih bisa kentut kita pasti akan di tikam dari belakang, selama badut-badut itu masih bisa bernapas kita pasti akan di gilas,

mari bersama-sama kita lemparkan mereka ke kantong sampah, kita benamkan ke lumpur hitam,

agar mereka diam tak bersuara

lalu mati,..... tak bertenaga,.............

Rabu, 24 Desember 2008

Privatisasi Berkedok Otonomi “BHP” bukan Solusi,.!!!

Privatisasi Berkedok Otonomi “BHP” bukan Solusi,.!!!


Perguruan-perguruan tinggi di Indonesia sendiri dikenal lemah kecakapan akademiknya. PTN/PTS tidak mampu menghasilkan karya-karya penelitian bermutu yang berguna bagi pengembangan industri dalam negeri. Jalan pintasnya, industri membeli teknologi dari negara maju, yang berarti ketergantungan terhadap kekuatan modal internasional. Akibatnya PTN/PTS pun tidak mempunyai daya tawar sama sekali terhadap industri dan terpaksa menyesuaikan diri dengan kepentingan industri, dengan memfungsikan dirinya semata-mata pemasok tenaga kerja melimpah dan murah. Pemerintah mengekalkan hegemoni sistem itu melalui kewenangan legalnya untuk memaksakan kebijakan pendidikan.

Dengan Privatisasi kampus dengan wujud BHP-nya berarti pemerintah akan mengurangi anggaran pendidikan. Kampus harus membiayai dirinya sendiri. Alasannya, banyak perguruan tinggi yang sudah maju hingga patut dilepaskan pemerintah. Selama kontrol dari mahasiswa dan masyarakat tidak berfungsi, tidak tertutup kemungkinan kampus akan menaikkan SPP tanpa banyak protes. Kurikulum dan peraturan-peraturan lainnya akan semakin otoriter dipaksakan kepada mahasiswa.

Intervensi pemodal ke dalam kampus makin besar, didesak oleh kebutuhan kampus untuk membiayai dirinya. Kampus akan semakin jauh dari fungsinya sebagai lembaga pendidikan, berubah menjadi industri pendidikan yang komersial, semata-mata berfungsi sebagai pabrik bagi “bahan baku” tenaga kerja yang terampil.

Privatisasi tidak sejalan dengan otonomisasi kampus. Dalam privatisasi, mahasiswa sama sekali diabaikan. Hak mahasiswa untuk mengorganisasi diri tidak disinggung-singgung. Hubungan antara mahasiswa dan aparat pendidikan tidak dijelaskan. Padahal, justru mahasiswa yang paling terkena dampak kebijakan tersebut, baik selama kuliah maupun setelah bekerja. Sangat mendesak penguatan daya tawar mahasiswa terhadap Rektorat melalui organisasi mahasiswa yang solid dan mengakar ke bawah, dalam arti betul-betul konsisten memperjuangkan tuntutan mahasiswa sehingga dapat menarik simpati massa mahasiswa. Perjuangan untuk kepentingan akademik ini tidak bisa dipisahkan dari perjuangan dalam spektrum yang lebih luas, yaitu menentang sistem pendidikan kapitalistik yang tidak memanusiakan. Pendidikan yang hanya menghasilkan sekrup-sekrup

NEXT,..2

PREV,..1 mesin industrialisasi untuk memupuk kekayaan kalangan kapitalis. Pendidikan macam ini tidak bisa dibiarkan menelan kita. Kontrol dari mahasiswa dan masyarakat luas harus dihidupkan.

Privatisasi tidak boleh dilakukan sebelum prasyarat-prasyarat partisipasi politik tersebut tumbuh. Kebebasan berorganisasi bagi mahasiswa (Serikat/Liga mahasiswa) dan staf pendidikan (serikat buruh pendidikan), kontrol mahasiswa dan kedewasaan dari kalangan penentu kebijakan pendidikan sendiri. Prasyarat tersebut hanya bisa dihidupkan dengan mengajukan tuntutan-tuntutan seperti kesamaan kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi (termasuk anak-anak buruh, nelayan, petani, dsb) yang selama ini didominasi lapisan menengah, dan penurunan biaya pendidikan. Idealnya, pendidikan gratis. Dengan kekayaan alam yang melimpah, sudah sewajarnya masyarakat memperoleh hak berupa fasilitas pendidikan modern dan murah (gratis!). Tuntutan pembebasan biaya pendidikan tidak lain adalah bagian dari perjuangan menciptakan tatanan demokrasi sosial (di dalamnya tercakup demokrasi politik, ekonomi dan kebudayaan).

UU BHP semakin membuat hancur pendidikan di Indonesia, UU BHP yang aslinya adalah Komersialisasi pendidikan di Indonesia tidak hanaya menghancurkan pendidikan tetapi membawa Negara kearah jurang kehancuran. Pendidikan dan kesehatan adalah hak dasar setiap warga Negara Indonesia yang harus dipenuhi oleh pemerintah, dengan adanya UU BHP maka pemerintah akan melepas tanggungjawabnya membiayai pendidikan padahal telah jelas diatur dalam tata Negara kita atau UUD 1945 bahwa pendidikan adalah tanggung jawab Negara untuk membiayainya yang diambilkan dari APBN atau APBD minimal 20%.

Bukan Privatisasi atau komersialisasi pendidikan yang dibutuhka rakyat, tetapi pendidikan yang GRATIS untuk rakyat. Mari kita serukan kepada pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada rakyat.


Oleh : Fahruddin Fitriya

Selasa, 23 Desember 2008

Guru bangkit ajarkan pendidikan perlawanan

Guru bangkit ajarkan pendidikan perlawanan


Sudah biayanya mahal, mutunya kacau pula. Repot-repot kuliah, sebenarnya kamu cari apa, sih? Pasti cari ijasah! Barangkali muncul jawaban lain-lain, tapi sudah barang tentu “ijasah” yang memaksamu bertahan. Bertahan di bangku kuliah, diomeli dosen, kutak-kutek skripsi, dan ngurus perpanjangan studi. Bagi sebagian besar kita, pendidikan adalah jalan menuju ijasah, prestise, dan kerja. Padahal, pendidikan adalah alat perlawanan! Karena hakikat pendidikan ialah “membebaskan” manusia. Pendidikan harus mengambil posisi kritis terhadap tatanan sosial yang tak berkeadilan. untuk membuktikan bahwa penindasan dan manipulasi kuasa telah merusak hakikat manusia yang bebas dan berkesadaran.

Sudah terlalu lama guru berdiam diri terhadap apa yang dialaminya. Walau UU Guru telah hadir, itu bukan jaminan kebebasan dan kesejahteraan guru. Profesi guru bukan hanya kurang dihargai tapi juga kerapkali dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dan politik.

Kini saatnya guru melihat kembali bahwa “mengajar” bukan hanya memindahkan pengetahuan, tapi juga mendidik perlawanan. Wahai guru, jadikan siswa-siswimu orang yang tak hanya menghargai pengetahuan namun juga menghargai pekerjaanmu sebagai guru. Buatlah sistem pembelajaran yang mengenalkan realitas sosial, bukan sekedar melatih tipu-menipu.

Guru masa depan bangsa ini ada dipundakmu. Jangan sampai kau lahirkan murid yang kelak menjadi penjahat kemanusiaan atau koruptor. Sudah lama bangsa ini merindukan guru, yang mampu melahirkan siswa yang memiliki empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.


Oleh : Fahruddin Fitriya

Ikrar kaum muda

Ikrar kaum muda


Indonesia lahir dari rahim perjuangan melawan ketidakadilan. Kalimat pertama Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyatakan, "bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Dari zaman ke zaman kaum muda menyumbang tenaga, pikiran dan jiwa mereka untuk menegakkan cita-cita ini: bebas dari segala bentuk penjajahan, oleh asing pun bangsa sendiri. Saat ini kita semakin jauh dari cita-cita mulia ini. Sistem ekonomi yang dipakai sekarang bertumpu pada rumus sederhana: kekayaan yang satu hanya mungkin didapat dari kesengsaraan yang lain. Kesetaraan dan keadilan yang pernah digariskan para pendiri bangsa sebagai landasan hidup bersama dianggap sebagai nyanyian usang dari masa lalu. Kekayaan alam habis dikuras meninggalkan kehancuran lingkungan yang tidak terbayar. Manusia Indonesia seperti dihantui kutuk sejarah :menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.

Reformasi politik 1998 yang mengganti kediktatoran Soeharto sempat memberi janji bahwa perubahan akan segera datang. Presiden demi presiden berganti, kabinet dibongkar-pasang namun keadaan tidak beranjak membaik. Justru krisis semakin membelit: kemiskinan dan pengangguran merajalela, komunalisme bangkit, kebencian etnik dan agama dikobarkan, di pusat dan daerah orang memperebutkan lembaga negara dan menjadikannya sumber akumulasi kekayaan. Korupsi memporak-poranda tatanan politik, tidak ada lagi adab dan nilai. Indonesia terancam hilang dari pergaulan dunia. Dalam keadaan ini kaum muda kembali terpanggil untuk bangkit. Republik ini berdiri untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Inilah arah dan jalan keluar dari krisis kita sekarang. Dan menjadi tugas sejarah kaum muda untuk mewujudkan-nya.

Di dunia kini bergema slogan kekuasaan lama: sejarah sudah berakhir. Kaum muda Indonesia menolak jalan buntu ini. Zaman ini bukan akhir dari sejarah, tapi awal dari sejarah baru. Saatnya kaum muda dengan visi pembaruan berhimpun dalam pergerakan menghapus penjajahan dan menegakkan negara kesejahteraan. Saatnya kaum muda memimpin..!

Oleh : Fahruddin Fitriya

KAUM MUDA OPORTUNIS MUSUH BESAR REVOLUSI

KAUM MUDA OPORTUNIS
MUSUH BESAR REVOLUSI

Oleh ; Fahruddin Fitriya*

Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis.
(Soe Hok Gie)

Lebih baik menderita kekalahan bersama massa daripada bersikap netral.
(Bolshevik)


Revolusi bukan sebuah adegan pesta makan malam. Kalimat itu suka sekali diucapkan Mao. Saat digelar revolusi China, Mao bergerak lincah seperti seekor kijang. Gempuran yang keras dari kaum nasionalis tidak lantas membuatnya tumbang. Mao punya energi spartan seperti Che Guevara yang berparas tampan dan tegas. Keduanya memiliki kesanggupan untuk bertahan, menahan kekalahan sekaligus menyerang dengan cepat. Sama dengan Imam Khomeini yang petuah dan sikap hidupnya terus mendendangkan lagu perlawanan. Hal yang juga dialami oleh Lenin, yang diduga karena terlalu banyak menggunakan otak sampai

pada kematiannya. Orang-orang itu, sepertinya diciptakan dalam “cetakan” yang khusus.

Disebut khusus karena mereka melakukan sesuatu yang sekarang mungkin dianggap tidak masuk akal. Khomeini menjatuhkan kekuasaan syah Reza yang jadi boneka mainan Amerika. Che menumbangkan Batista dengan serangan gerilya yang cekatan dan militan. Sedangkan Lenin menumbangkan kekuasaan Tsar yang tiran dan penindas. Mereka melakukannya, dengan motif dan cita-cita raksasa. Mendirikan negara komunis hingga menetapkan sistem politik Islam. Di tangan Lenin tulisan Marx berbuah gerakan. Di tangan Khomeini ajaran dalam Qur’an menjadi revolusioener. Hingga saat ini mereka adalah? inspirasi banyak kaum pergerakan. Tapi tak selamanya membaca tulisan Marx jadi radikal. Sama halnya tak semua pembaca Qur’an akan menjelma jadi sosok Khomeini. Tulisan maupun seruan Lenin belum tentu membuat orang lantas jadi bernyali. Malahan tak sedikit mereka ketakutan, cemas, dan kuatir. Suatu ketika pada saya, seorang anak muda menelpon dan mengatakan kalau kaos Lenin itu bahaya. Usianya memang masih belia tapi ucapannya mirip lansia

(lanjut usia). Anak muda seperti ini ternyata jumlahnya cukup banyak di negeri ini. Mahkluk jenis ini adalah generasi yang terlalu banyak makan dan kebanyakan nonton acara hantu di televisi. Hingga tempurung kepalanya penuh nasi dan darahnya lebih banyak mengalir? rasa takut!

Dulu mereka mungkin pemberani. Suatu ketika mereka mungkin aktivis yang giat di jalanan bahkan pernah kena sentuhan sel penjara. Bentrok dengan polisi dan tentara bisa jadi menu sehari-hari. Tapi nyali itu bisa di makan usia. Keberanian kerapkali kurang bertahan lama di badan. Semangat perlawanan dan anti kemapanan nyatanya mengenal kata istirahat. Uang dan jabatan pastilah mampu membuat mereka bersimpuh. Nyali berganti dengan watak pengecut. Suara kritis berbelok ke arah kompromi. Dan sikap anti kemapanan berbalik jadi pribadi borjuis yang haus popularitas dan posisi. Sehingga ketika menjadi pengecut, mereka sibuk membela diri. Di sekitar kita, memang ada banyak kaum muda yang tidak betah lapar. Sebagian dari mereka juga agak nyiyir terhadap mimpi revolusi. Bahkan ada pula yang sinis hanya karena rekan-rekan muda yang lain memakai kaos perlawanan.

Mereka kerapkali menyebut diri dengan sosok yang realistis. Pribadi yang seolah-olah tidak memiliki motif raksasa. Sejenis ego yang tak mampu melihat apapun yang berbau mimpi dan imajinasi kecuali dengan semangat merendahkan. Di mata kepala mereka, hidup itu tak perlu mimpi dan omong besar. Tak jarang, spesies yang tak sukar ditemui ini berkumpul dengan sesamanya lantas ramai-ramai saling mengucapkan, meneriakkan, bahkan mengecam anak-anak muda-yang mungkin dianggapnya-seperti seorang bayi.

Yang menakjubkan, mereka bukanlah kawanan penganggur. Ada yang duduk dalam posisi kekuasaan. Opini mereka tentu bermotif melunakkan udara perlawanan. Ada yang duduk sebagai pengusaha. Motifnya yang mungkin adalah mengeruk laba. Tetapi yang mengejutkan, ada anak muda yang duduk sebagai aktivis yang punya pandangan seperti itu. Mereka yang menolak perubahan melalui revolusi dan lebih menyukai metode yang lunak serta jelas-jelas didukung lembaga donor. Mereka semua adalah pengkhianat revolusi yang jauh lebih berbahaya ketimbang barisan serdadu. Dengan kantong yang tebal serta

pengalaman travelling kemana-mana, mereka adalah tanaman yang dibonsai. Mereka besar bukan karena nyali perlawanan tapi karena “loyalitas dan kepatuhan” buta pada kaum cukong pemegang uang.

Inilah jenis utama musuh yang sesungguhnya ditentang oleh Ali Syariati dan Imam Khomeini. Orang-orang pintar omong yang sebenarnya tidak kerja demi rakyat. Rakyat di kalimat mereka, hanyalah himpunan orang-orang yang berkumpul karena perlu untuk di “proyekkan”. Lenin mengecam barisan yang tidak punya dedikasi dan kedisplinan. Karena mereka selalu punya pandangan dengan disiplin ala serdadu. Yang mereka rindukan dan disenangi adalah popularitas. Bahkan tak jarang mereka menginjak sesama anak muda, untuk menduduki tangga popularitas itu. Mulutnya saja ngomong tentang demokrasi padahal kerjaannya melakukan penindasan imajinasi. Mereka kini memenuhi, bukan saja NGO/LSM, melainkan dunia profesi yang bersentuhan dengan kegiatan seperti hukum, medis, hingga pendidikan. Semua lini yang mengarah kepada orang-orang miskin. Andai Che Guevara masih hidup, tentu ia akan menghimpun bergerilya melawan mereka. Mereka seperti barisan

pendukung Batista yang loyal dan juga kaya. Bagaimana anak-anak muda ini bisa radikal, jika gaya hidup serta konsumsi mereka jauh dari apa yang dimakan sehari-hari oleh rakyat miskin. Jika saja Imam Khomeini masih segar tentu anak-anak muda ini yang ia peringatkan pertama kali. Tapi mereka tak mungkin patuh dengan Khomeini, yang terus mendesak untuk aksi ke jalan meski moncong senapan diarahkan ke muka. Kalau Lenin masih tegak pasti kelompok anak-anak muda ini akan dikenakan disiplin untuk pertama kali. Revolusi, yang menuntut sikap tegas, tidak memerlukan mereka yang ragu-ragu apalagi skeptis terhadap mimpi. Revolusi jadi menarik, karena ia energik, imajinatif, dan menolak keragu-raguan.

Mungkin karena itu revolusi muncul hanya dalam slogan. Sebab anak-anak muda pendukungnya berada dalam situasi yang sakit dan cacat. Pertama, mereka tidak suka mimpi perubahan yang radikal dan besar. Uang telah membikin mereka jadi anak muda yang berurusan dengan hal-hal sepele dan sederhana. Uang tidak membuat mereka bergegas membikin karya besar. Kenikmatan mereka diukur dengan badan dan perut

mereka sendiri. Kedua, anak-anak muda ini begitu rakus dan haus popularitas. Lensa kamera yang ukurannya kecil itu dijadikan sasaran untuk menayangkan muka mereka yang letih dan penuh polesan. Ukuran aktivitas bukan sejauh mana dampaknya bagi rakyat melainkan dimuat-tidaknya di media. Ketiga, karena itu mereka meneguhkan diri sebagai kawanan sekuler dan liberal karena mereka berbuat, bertindak, dan bersikap tanpa dasar nilai sama sekali. Mereka tidak beragama, tapi mereka juga bukan atheis atau marxis. Mereka tidak beragama karena memang malas diikat oleh aturan-aturan.

Satu-satunya ikatan di antara mereka hanyalah uang. Selama uang berkibar maka apapun akan dikerjakan. Selama uang bisa memenuhi kantong maka semua akan dilakukan. Karena istilah uang itu agak kasar, maka coba disebut kata logistik untuk menghaluskannya. Bagaimana kita bisa bergerak kalau logistiknya tidak ada? Itulah semburan yang dilontarkan. Sudah pasti mereka tidak tahu, berapa modal yang dipunyai Lenin saat memulai Revolusi Oktober. Mereka pasti tidak ingat bagaimana Marx yang lapar mampu melahirkan karya Das Kapital. Mereka juga tidak


Dan perubahan bukan datang dari konsep-konsep proposal. Revolusi memang dicetak oleh anak-anak muda yang bernyali. Almarhum Romo Mangun selalu bilang, bukan anak muda jika tidak radikal! Sikap radikal adalah karakteristik orang yang disebut muda. Muda, radikal dan karenanya militan. Terhadap uang, sikap anak muda adalah seperti novel Knut Hansum yang berjudul lapar, enggan, malu dan tidak akan meminta. Karena ia tahu, martabatnya tidak diukur dari berapa uang yang dimiliki. Terhadap jabatan apalagi. Persis sikap Einstein yang menolak jadi penguasa karena ilmu fisika jauh lebih asyik ketimbang duduk didampingi pengawal. Tapi terhadap petualangan pelawanan, ia akan mengatakan, ya! dan terjun bergerak. Novel dan film The Old Man and The Sea, karya Ernest Hemingway, menuturkan bagaimana seorang layaknya menyambut petualangan. Inilah sikap anak muda mas Marco Martodikromo hingga Che Guevara. Mereka adalah anak muda yang selalu curiga, dengan kenyataan. Anak muda yang hidupnya dimodali dengan pertanyaan, bukan segebog rupiah atau dollar.


“KIRI”

KIRI”


Ya, yang suka naik angkot pasti akrab betul dengan seruan di atas. Tapi saya tak hendak bicara tentang angkutan publik yang senantiasa carut marut di negara kita tercinta ini. Saya sedang ingin ngobrol tentang kiri yang lain. Mari bicara tentang kiri yang selalu sukses memancing kalut di sebuah negeri bernama Indonesia.

Pertama-tama, kita runut dulu sejarah istilah kiri yang menyeramkan ini. Awalnya terminologi kiri dan kanan digunakan untuk menunjukkan afiliasi politik seseorang di awal era Revolusi Prancis. Asal muasalnya sangat sederhana, cuma soal tempat duduk para anggota legislatif di Prancis pada tahun 1791. Waktu itu, raja masih jadi kepala negara [dalam konteks formal], dan pendukung kerajaan yang konservatif [kaum Feuillants -- jangan suruh saya membaca nama ini!] duduk di sebelah kanan ruang sidang legislatif; sedangkan kelompok radikal (kaum Montagnards) duduk di sebelah kiri ruangan.Aslinya sih, pemisahan ini mencerminkan tingkat keberpihakan masing-masing kelompok pada rezim lama (baca: para aristocrat). Maka kala itu kaum kanan adalah kelompok pendukung para aristokrat dan keluarga kerajaan. Sedangkan kaum kiri diartikan sebagai kelompok yang menjadi oposisi.

Itu dulu. Namun lama kelamaan, pemisahan siapa kiri dan siapa kanan jadi jauh lebih

kompleks. Misalnya nih, waktu revolusi Bolshevik, jelas Stalin dan para pendukungnya masuk di golongan kiri; dan memang, para pendukung komunisme jaman Stalin disebut (dan menyebut diri mereka) the leftists, alias kaum kiri. Tapi, siapa yang bisa disebut kelompok kiri di Rusia kala Stalin berkuasa? Mereka yang mendukung Stalin sejak Bolshevik-kah? Atau para reformis yang sudah mengadopsi beberapa pemikiran yang berasal dari mazhab kanan? Sudah mulai bingung? Semoga belum. Yang jelas, terminologi kiri dan kanan mengalami evolusi seiring perkembangan jaman.

Sederhananya, terminologi kiri biasa diasosiasikan dengan kelompok progresif (di Amerika Serikat, kelompok kiri kerap juga diartikan sebagai kelompok Liberal); sedangkan terminologi kanan diasosiasikan dengan kaum konservatif yang setia pada paham-paham lama.

Di Indonesia, kiri acap kali diartikan secara sempit sebagai PKI/Komunis/Sosialis -- tanpa mengenali sejarah maupun pemaknaan kata-kata tersebut secara benar. Ya, tidak heran kalau ujungnya jadi salah kaprah tiada tara. Ada baiknya kita mencoba menggali lagi, arti dari tiap-tiap kata yang berseliweran di sekeliling kita, daripada lantas mendekam dalam kebingungan abadi gara-gara indoktrinasi rezim yang gemar berdusta.

Tapi semua kembali pada pilihan masing-masing orang: Apakah hendak menggali tiap kata dan memaknainya dengan merunut sejarah kata itu? Atau masih betah terlelap dalam dusta dan pemaknaan absurd karangan para tukang bohong? Terserah, sih. Yang penting anda menentukan pilihan itu secara sadar, dan siap dengan segala konsekuensinya.

Oleh : Fahruddin Fitriya


Lawan atau Miskin

Lawan atau Miskin

Oleh : Fahruddin Fitriya


Indonesia yang terkenal dengan kekayaan sumberdaya alamnya kini tampak murung. Kemiskinan, kesedihan, dan kematian tak sulit lagi di dapati di negeri ini. Meskipun Indonesia hari ini tidak mengalami peristiwa yang persis saat terjadi pertempuran antara revolusi dan kontra-revolusi, tetapi korban akan terus berjatuhan karena semakin melambungnya harga-harga bahan pokok, Hidup semakin susah dan nasi tidak lagi bisa terbeli. Akhirnya kematian terpaksa menjadi jalan terakhir untuk membebaskan diri dari penatnya kehidupan. Seperti baru-baru ini di Tegal Jawa tengah seorang ayah meminum racun serangga bersama anak-anaknya untuk mengakhiri hidup dan lagi seorang ibu yang tengah hamil tua di Makassar, tubuh perempuan itu meregang, pucat, kaku, dan mati. Suaminya memeluknya dan seolah ingin menahannya jangan pergi. Dan kini, ia tidak lagi menyaksikan anak-anaknya duduk berjejer menunggu sarapan tiba dengan mulut yang berharap. Itupun tak berhenti di Makasar dan Tegal.

rakyat miskin bingung mencari nasi, orang-orang kaya tetap bisa mengunjungi restoran, memesan makanan yang paling enak, tidur di hotel mewah, menikmati taman bunga, berbincang-bincang tentang keindahan, merencanakan masa depan, dan menumpuk harta untuk tujuh turunan. Disaat yang sama, para penyelenggara negara bingung bagaimana membuat dan menghabiskan anggaran. Demikian juga dengan para politikus, ribut soal kekuasaan, dan tiba-tiba tampil di depan publik sebagai guru moral. Pantaslah jika kita menyebut negeri ini sebagai negeri maling yang diselenggarakan oleh para badut. Tampaknya cocok jika mengundang Jemek Supardi, seorang seniman pantomim asal Jogja, untuk mengisi acara di istana presiden dan di gedung DPR, agar mereka tahu bahwa mereka hanyalah badut-badut politik yang berjubahkan kearifan.

Ini cukup memprihatinkan. Ini pertanda telah matinya moralitas. Moralitas dipandang hanya sebagai instrumen. Ia akan muncul jika produktif untuk sebuah kepentingan, dan sebaliknya, dibuang jika ia cukup mengganggu jalannya sebuah kepentingan tersebut. Dan jika hal tersebut terjadi, yakni moralitas hanya sebagai instrumen belaka, maka solidaritas sosial akan mundur, dan kehidupan terasa semakin murung.

Emile Durkheim mejelaskan tentang mundurnya solidaritas sosial mekanis, yang telah menjadi ciri khas suatu masyarakat, karena dampak dari modernitas. Kapitalisme yang paling bertanggungjawab atas lahirnya masyarakat modern yang rapuh dan hilangnya solidaritas sosial mekanis itu. Masyarakat modern, sebagai simbol kemajuan suatu peradaban

ternyata bertumpu pada ratap tangis rakyat miskin, Pembangunan yang melampaui batas merupakan hasil dari penghisapan yang melampaui batas pula. Kekayaan alam suatu negeri yang seharusnya bisa dinikmati bersama telah dirampas oleh suatu gerombolan. Gerombolan tersebut adalah persekutuan antara penguasa dan pemilik modal besar. Dampaknya cukup mencengangkan: kemiskinan, kelaparan, dan kematian. Dibalik gedung-gedung megah di Jakarta, terdapat kampung-kampung kumuh yang sangat menyedihkan; dibalik kafe-kafe elit, restoran-restoran mewah, terlihat anak-anak jalanan menjalani hidupnya sebagai pengamen dan pengemis; dan dibawah terangnya lampu-lampu kota, kita bisa melihat puluhan buruh bangunan berjongkok di terotoar, menunggu nasib, hingga larut malam.

dasar moralitas baru adalah penting guna membangun kehidupan sebagaimana mestinya. Moralitas baru yang terbebas dari hegemoni kapitalisme. Moralitas baru itu adalah ”kesadaran kelas”, suatu kesadaran politik untuk menghancurkan kapitalisme, merebut kekuasaan, melakukan reorganisasi ekonomi -- baik mengenai kepemilikan maupun sistem produksi. Moralitas baru yang melahirkan kepemimpinan revolusioner, partai revolusioner, basis massa yang solid dan militan, yang akan menuntaskan permasalahan bangsa dengan mendekonstruksi organisasi dan moral kapitalistik.


MELAWAN ATAU MISKIN…!!!

MELAWAN ATAU MISKIN…!!!

Reformasi bukan akhir dari perjuangan, reformasi sebenarnya hanya suatu awal dari perjalanan kita, awal dari perjuangan kita untuk melawan segala bentuk penindasan. Harapan reformasi adalaah untuk berhenti dari bangsa kuli menjadi bangsa yang mandiri, mandiri dalam segala hal tanpa kecuali!!! Sumber daya di negeri ini adalah milik kita dan anak cucu kita nantinya, bukan milik orang amerika dan bangsa kapitaliis-kapitalis dunia lainnya. Masihkah kawan-kawan teringat oleh firman allah yang kurang lebih artinya “ lebih baik memberi kail dari pada memberi ikannya”, kalau kita seorang yang terpelajar apalagi seorang mahasiwa sudah tentu kita paham dan mengerti apa yang tersirat pada firman tersebut, tapi nyatanya apa yang di lakukan oleh penguasa di negeri ini sangatlah jauh dari apa yang diharapkan oleh firman tersebut, misalnya BLT, Subsidi, korporasi pemerintah dengan pihak pertambangan asing dan lain sebagainya.
Yang akan dibahas disini bukan soal BLT, Subsidi dan banyak lagi kegoblokan penguasa negeri ini. Saya hanya ingin mengingatkan kawan-kawan bahwasanya kita itu memiliki kail terbaik di muka bumi ini, bagaimana tidak!!! Kita punya cadangan minyak yang melimpah, kita punya banyak kandungan batu mulia dari emas, perak, perunggu dsb, dan banyak lagi kekayaan-kekayan negeri ini,tapi apa yang terjadi??? Kenapa harus ada Exxon, caltek oil, Freeport, newmont, dan banyak lagi tambang-tambang asing lainnaya. Kenapa mereka masih bercokol dinegeri ini???
Mereka itu tak jauh beda dengan segerombolan perampok rakus yang menghisap habis-habisan kekayaan yang ada di negeri ini. Ironisnya kita yang seharusnya menikmati kekayaan tersebut malah di jadikan kuli, tapi sampai kapan kita berhenti menjadi bangsa kuli di negeri sendiri??? Ingat, Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu mau dan berusaha merubah dirinya sendiri???

Oleh : Fahruddin Fitriya

Biaya pendidikan masih mahalBiaya Pendidikan Masih Mahal

Biaya pendidikan masih mahalBiaya Pendidikan Masih Mahal



Undang-undang dasar memang telah mengamanatkan bahwa 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN) harus dialokasikan untuk biaya pendidikan. Sejumlah daerah seperti Provinsi Jawa Tengah juga sudah menganggarkan biaya pendidikan yang cukup besar.

Bahkan untuk tahun 2006, 20 persen lebih dari total anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Jawa Tengah yang berjumlah Rp (Cari Data) triliun diperuntukkan bagi pendidikan. Membaca angka-angka di atas tentu kita sangat gembira dan sangat optimistis bahwa pendidikan generasi muda kita akan lebih baik dibandingkan dengan waktu lalu. Namun, faktanya ternyata tidak seoptimistis seperti yang digambarkan oleh angka-angka tersebut.

Selain pemerintah pusat belum mampu mengalokasikan dana seperti yang diperintahkan oleh undang-undang, dana pendidikan yang sudah dikucurkan pun, termasuk oleh Pemda, seringkali tidak mengenai sasaran. Ini belum termasuk sekolah-sekolah yang berada di sejumlah daerah yang APBD-nya memang sangat kecil.

Coba saja lihat di lapangan. Sejumlah SMP dan SMA, terutama yang unggulan, masih memungut dari orang tua murid dana yang cukup besar, khususnya yang terkait dengan uang masuk (pembangunan). Di Semarang, misalnya, meskipun dengan dalih bahwa besaran uang masuk itu sudah disepakati oleh orang tua murid lewat Komite Sekolah, namun kesan ‘pemaksaan’ tetap saja terasa. Intinya, orang tua murid harus membayar sekian juta bila anaknya ingin diterima di sekolah unggulan tersebut.

Besarannya variatif, antara Rp 3 juta hingga Rp 10 juta. Bila tidak, silakan pindah di sekolah lain. Padahal, para murid yang nilainya memenuhi syarat diterima di sekolah unggulan tidak semua orang tuanya mampu secara Finansial. Besaran dana ini baru sebagai uang masuk dan belum uang bulanan dan lainnya yang jumlahnya bisa mencapai Rp 250 ribu/per bulan. Ini baru di tingkat SMP serta SMA. Bagaimana dengan di perguruan tinggi?

Bagi yang bernasib baik diterima di perguruan tinggi negeri, mungkin lebih beruntung. Beruntung karena uang masuk (gedung) akan lebih murah daripada di perguruan tinggi swasta, terutama yang terkenal (unggulan). Namun, murah di sini bukan berarti ratusan ribu rupiah, tapi puluhan juta. Yang terakhir ini tentu lebih murah dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta. Konon, untuk fakultas unggulan seperti kedokteran, ada universitas yang mengenakan uang masuk sebesar lebih dari Rp 100 juta.

Bila fakta lapangan ini benar adanya, maka alangkah malang nasib orang-orang ‘kecil’ dan miskin yang jumlahnya sangat besar di negeri ini. Anak boleh pintar, tapi kalau orang tuanya tidak mempunyai biaya maka tetap saja ia tidak bisa masuk perguruan tinggi. Ini berbeda dengan nasib anak-anak yang orang tua mereka mampu secara finansial. Kalau mereka pintar, tinggal pilih perguruan tinggi yang diingini, termasuk universitas di luar negeri. Bahkan, seandainya pun anak tidak pintar, mereka pun masih bisa kuliah karena orang tuanya mampu ‘membeli’ bangku sekolah/kuliah.

Memang, ada sekolah-sekolah atau universitas swasta yang murah. Namun, sekolah atau universitas seperti ini biasanya mutunya sangat tidak memadai. Bahkan, murid-murid atau mahasiswa-mahasiswinya merupakan ‘sisa-sisa’ dari mereka yang tidak diterima di sekolah atau universitas negeri. Sehingga, kualitas lulusannya pun sangat rendah. Karena itu, kalau Dunia pendidikan, termasuk masalah pendanaannya, ini tidak segera dibenahi, kita khawatir struktur Negara di negeri ini akan terus menguntungkan orang-orang kaya saja. Anak orang kaya akan terus kaya, sedangkan anak orang miskin akan tetap miskin. Padahal, bukankah setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan?

Oleh : Fahruddin Fitriya



Rakyat miskin dilarang pintar 2

Rakyat miskin dilarang pintar 2


Rakyat Indonesia, bagaikan seekor ayam yang mati di lumbung padi” bagaimana tidak, dari sembako, BBM, Listrik dan semua kebutuhan hidup sekian hari sekian mahal, tidak dapat disangkal lagi semua itu sangatlah sulit untuk dijangkau rakyat miskin yang kurang mampu di bangsa ini. Ironis memang, ketika pendidikan tak mau lagi bersahabat dengan kita, liarnya SPL dan mahalnya biaya kuliah di kampus yang pernah mendapat predikat “Kampusnya wong cilik” sudah cukup untuk membuat orang tua yang kebetulan buah hatinya ingin pintar mulai menjerit, mereka sampai kerja ekstra keras banting tulang (tak ada lagi daging untuk dibanting), peras keringat bahkan darah demi putra-putri tercintanya.

Padahal kalau kita sadari dan mau itung itungan satu tambang milik asing yang ada di negeri tercinta Indonesia yang selama ini menguras habis habisan sumber daya alam kita, ambil contoh Exxon mobil oil (USA) dengan keuntungan sekian trilyun itu dapat menggeratiskan biaya kuliah mahasiswa seluruh Indonesia. Itu hanya Exxon mobil oil, belum lagi perusahaan Migas lain seperti British petroleum (Inggris raya), Shell (Belanda), Cevron Texaco Caltex (USA), dll. Katakanlah itu hanya perusahaan tambang Migas, belum lagi disektor industri ekstraktif enam TNCs yaitu; Rio tinto Ltd, Newmont mining corporation, Newcrast minig Ltd, Inco Ltd, Freeport MC moran copper dan Gold Inc. melalui anak perusahaan dan afiliasinya yang berbasis di Australia, singapura, USA dan kanada menguasai dan mengendalikan hampir seluruh sektor pertambangan baik itu Emas, perak, nikel, tembaga, batu bara dll, apa itu semua belum cukup? Masih pantaskah orang tua kita menjerit? Sekian banyak deretan sektor-sektor industri yang bila penguasaannya disentralisir oleh Negara kemudian hasilnya untuk kesejahteraan rakyat yang akhirnya mampu menuntun Indonesia kearah Negara yang lebih baik serta maju.

Sebenarnya bangsa kita mampu menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera, segala akses yang dibutuhkan rakyat dapat terpenuhi seperti; mendapatkan pelayanan pendidikan gratis dan pelayanan kesehatan gratis. Itu semua tidak mustahil dengan adanya keberanian pemerintah untuk menasionalisasikan semua industri pertambangan yang telah dikuasai oleh pemodal asing. Dengan begitu orang tua kita tidak lagi susah-susah banting tulang dan sebagainya untuk mendanai biaya pendidikan buah hatinya di bangku sekolah maupun bangku perkuliahan. Berarti tidak ada lagi istilah “Rakyat miskin dilarang pintar”, “Rakyat miskin dilarang sakit”, apalagi pepatah sang maestro “Bagai ayam yang mati di lumbung padi”. FF.

* Oleh; Fahruddin Fitriya