Tampilkan postingan dengan label rahmat sutopo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rahmat sutopo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2009

JANGAN TERKECOH NAMA BESAR PARTAI

JANGAN TERKECOH NAMA BESAR PARTAI

*Rahmat Sutopo


Manjelang Pemilu masih banyak orang yang belum mengerti tentang bagaimana mensikapi Pemilu 2009, apakah mereka memutuskan golput atau memilih, kalaupun memilih belum tentu mantap dengan pilihannya, bahkan belum tentu mengenal siapa yang dipilih. Inilah problema kita bersama. Bahwa sudah sering di bicarakan oleh banyak kalangan kalau pemilu yang dulu ibarat memilih kucing dalam karung. Pemilu 2009 ini pun juga tidak akan jauh dari itu, karena banyak calon yang akan dipilih pada pemilu legislative nanti yang tidak di kenal sosok dan profilnya di masyarakat. Para calon yang berkampanye hanya menjual tampang mereka dengan memasang atribut dan wajah nya di pinggir jalan-jalan protocol. Tidak banyak dari calon-calon tersebut yang menawarkan program. Bagaimana masyarkat akan memilih dengan benar jikalau yang di pamerkan hanya wajah para calon-calon yang sebelumnya tidak pernah hadir dalam aktivitas-aktivitas membela hak rakyat. Sebagai masyarakat yang berpendidikan tentunya kita sebagai mahasiswa lebih memperhatikan apa yang di usung oleh tiap calon, jangan mau tertipu oleh kecantikan, kegantengan ataupun slogan-slogan yang seakan membela kepentingan kita. Kita juga harus tahu latar belakang sang calon, jangan-jangan orang itu pernah melakukan korupsi atau terlibat criminal. Kita juga jangan mudah percaya pada kebesaran partai, karena partai besar belum tentu memiliki calon yang loyal kepada rakyat. Tentunya mahasiswa bukan berada pada level rendahan sehingga bisa lebih jeli memilih wakilnya di legislative maupun di eksekutif nanti.

*Ketua LMND Semarang

Selasa, 23 Desember 2008

May Day, Bukan Saja Momentum Bagi Kaum Buruh

May Day,

Bukan Saja Momentum Bagi Kaum Buruh

Bagi kaum buruh 1 Mei merupakan hari yang ditunggu-tunggu, karena pada 1 Mei kaum buruh sedunia memperingati Hari Buruh Internasional. Pada hari itu tidak asing bila ditemukan pemandangan berupa aksi-aksi masa, unjuk rasa ataupun demonstrasi di pusat pemerintahan kota maupun di pabrik-pabrik. Bagi kebanyakan orang yang kurang menghargai demokrasi aksi unjuk rasa seakan-akan merupakan hal yang tabu. Tetapi perlu juga kita lihat apakah selama ini buruh atau pekerja di Indonesia sudah mendapatkan apa yang dinamakan upah layak? Ketika melakukan unjuk rasa dengan gelombang aksi masa yang besar para buruh akan bisa meneriakkan ketertindasanya selama ini yang dilakukan oleh para pengusaha yang pro kapitalis.supaya kita yang berada di “puncak gunung” pun tahu. Bahkan tidak hanya para pengusaha saja yang menindas kaum buruh. Wakil rakyat di DPR pun melakukan itu, terbukti dengan dikeluarkannya produk hukum berupa UU No.13 tahun 2004 tentang Ketenagakerjaan, yang jelas-jelas kurang berpihak pada kepentingan buruh. Masih adanya Outsourching, PHK sepihak ini merupakan salah satu bukti bahwa pemerintah tidak perhatian terhadap nasip para pekerja. Adanya Upah Minimum Kota (UMK) yang mestinya tujuannnya adalah untuk memberikan kesejahteraan bagi kaum buruh saat ini pun belum sesuai dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Balum lagi kondisi social ekonomi saat ini dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

Kita coba lihat sejarah kebangkitan gerakan buruh, Ketika selama berabad-abad kaum pekerja ini bekerja siang malam, sampai-sampai lebih dari 12 jam sehari, tanpa mendapatkan imbalan yang sepadan, sehingga bangkit kesadaran, menuntut keadilan. Pada tahap pertama perlawanan mereka dalam bentuk menjadikan perkakas produksi, mesin sebagai sasaran perusakan. Kemudian kesadaran menuntut keadilan dan berlawan itu terus tumbuh, dan pada akhirnya mereka menyedari bahwa nasib buruk yang menimpa mereka bukanlah alat-alat dan perkakas produksi, melainkan majikan, penguasa atau pemilik alat dan perkakas produksi itu.

Kaum borjuis telah menguras tenaga kaum pekerja dan mengisap dengan nyaman hasil kerjanya dalam bentuk nilai lebih. Oleh karena itu kaum pekerja menjadi sadar bahwa kepada majikan itulah perlawanan harus ditujukan. Yang dimaksud dengan perlawanan di sini adalah memperjuangkan hak-haknya dan keadilan dalam soal syarat-syarat kerja dan upah yang layak dari majikan. Mereka menuntut upah yang adil, kenaikan upah sesuai dengan tenaga dan waktu yang telah dipakai untuk berproduksi, syarat kerja yang baik, penurunan jam kerja, ruang kerja yang sehat, jaminan keamanan kerja, jaminan kesehatan dan pengobatan, jangka waktu libur untuk perempuan hamil menjelang dan sesudah bersalin, dan lain-lain.

Kondisi diatas diperparah lagi dengan realita saat ini, di negeri ini. Ketika sebagian besar perusahaan yang ada adalah milik pengusaha asing yang sama sekali tidak pernah berfikir tentang kesejahteraan buruh, yang lebih senang berinvestasi ketika upah buruh di suatu tempat tergolong rendah. Kini sudah saatnya para borjuasi-borjuasi asing itu ditendang jauh-jauh dari negeri ini terutama perusahaan-perusahaan di sector petambangan seperti Exxon dan Freeport yang jelas-jelas menambah sengsara rakyat. Di papua lima bahasa daerah papua telah hilang selama Freeport beroperasi disana. Ternyata kehadiran perusahaan asing tidak hanya menyerang ekonomi bangsa ini saja namun secara budaya juga telah mencederai budaya bangsa ini.

Sekarang sudah tidak ada alasan lagi bagi pemerintahan SBY-JK untuk tidak menasionalisasikan industri tambang. Karena inilah salah satu sumber penyakit yang harus diobati untuk saat ini. Nasionalisasi Industri Pertambangan adalah sebuah jawaban untuk bangkit dari keterpurukan yang selama ini dialami. Sekarang tidak hanya buruh saja yang harus meneriakkan Nasionalisasi Industri pertambangan, tetapi semua sector rakyat termasuk mahasiswa juga harus mulai bergabung dalam gerakan ini. Mahasiswa jangan sampai tidak mengerti bahkan tidak mau tahu itu, jika seperti itu berarti sudah kondisi yang sangat parah. Karena tugas mahasiswa selain belajar mahasiswa juga sebagai Agent Sosial Control dan agen Perubahan ( Of Change). Ketika mahasiswa berbicara masalah buruh hari ini, mahasiswa bicara masalah kerakyatan itulah menu mahasiswa sehari-hari, disamping harus belajar di kampus. Kalau saat ini belum terwujud suasana seperti itu, ayo bareng-bareng kita wujudkan.

Rahmat Sutopo

Ketua LMND kota Semarang


Reformasi Yang Mati Suri

Reformasi Yang Mati Suri

Oleh : Rahmat Sutopo

Adalah tanggungjawab sejarah generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk terus berjuang memperbaiki nasib bangsanya. Sebagian besar rakyat kita adalah masyarakat yang belum bebas dari kebodohan dan kemiskinan, dipundak mahasiswa-lah mereka menaruh harapan akan masa depan anak-anaknya agar hidup lebih baik dimasa mendatang. Melalui kemampuan intelektualitas, seyogyanya mahasiswa mampu menangkap perasaan rakyat akan pentingnya kesejahteraan dan demokrasi, yang adil dan merata, sebagai konsekuensi logis dari negara yang merdeka-berdaulat.

Kemerdekaan berarti kebebasan untuk menentukan nasib dan memiliki kesempatan yang egaliter untuk berkehidupan. Artinya, kemerdekaan harus mampu mengangkat harkat dan martabat rakyat untuk hidup layak, serta turut andil dalam proses ber-negara. Itulah demokrasi, rakyat memiliki hak untuk terlibat dalam urusan Negara, sesuai dengan sistem negara yang disepakatinya. Dalam hal ini, rakyat berhak mempertanyakan nasibnya dan menyuarakan pendapatnya. Secara kolektif, perikehidupan rakyat yang baik akan tercipta bila negara dikelola oleh aparat yang bersih, jujur dan transparan dalam melaksanakan tugasnya. Konsekuensinya Negara harus bebas dari praktek Kolusi, Korupsi dan Nepotisme ekonomi yang mengorbankan kepentingan rakyat. Maka hanya dengan pemerintahan yang bersih dan kejujuran, para pengelola negara memiliki kewibawaan. Untuk menjamin Negara yang sehat, tidak lain Hukum harus ditegakkan. Supremasi hukum, merupakan fondasi yang mengikat objektifitas penyelenggaraan negara dimana pengelola negara hanya mengabdi pada kebenaran dan kepentingan umum. Hanya dengan menegakkan hukum dan moralitas kejujuran, demokrasi yang sebenarnya akan terbangun dengan kokoh. (Yuddy Chrisnandy,)

Secara faktual, mahasiswalah yang menjadi ujung tombak sekaligus mainstream dari gerakan perubahan yang berlangsung di manapun. Dengan nalar intelektualitasnya, mahasiswa mampu menemukan argumentasi rasionil mengenai kondisi yang bobrok dan tidak sesuai dengan semangat konstitusi atau nilai kemanusiaan . Permasalahannya apakah kondisi riil saat ini, apakah mahasiswa masih punya nurani untuk melanjutkan agenda reformasi? Mahasiswa jangan melulu berada di kampus, lihatlah kondisi rakyat Indonesia saat ini. Akankah kita biarkan rakyat Indonesia selalu dibodohi. selalu di tindas? Dimana nurani kita, ketika ternyata masih banyak rakyat yang menderita karena ulah penguasa. Jangan biarkan reformasi mati suri ditangan para diktator yang berkedok demokrasi. Jangan pernah takut berjuang kawan, jika perjuangan itu berada dalam jalan kebenaran. Fiat Justicia Roeat Coulum (Tegakkan keadilan meski langit akan runtuh).

Yang Mahasiswa Yang Membaca

Yang Mahasiswa Yang Membaca

Oleh : Rahmat Sutopo*

Dunia kemahasiswaan yang merupakan dunia paling indah bagi para pemuda-pemudi hendaknya untuk saat ini perlu merenungkan apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya. Karena kindahan-keindahan yang menghiasi dunia mahasiswa saat ini telah mengalami kemunduran dan kemerosotan yang sangat drastis. Mahasiswa telah mencoreng muka mereka sendiri dengan Lumpur kering. Stigma masyarakat telah miring pasca tindakan-tindakan brutal yang tidak mencerminkan tindakan seorang intelektual muda. Tawuran antar Fakultas yang terjadi di sulawesi merupakan bentuk penghilangan identitas sejati mahasiswa yang konon kabarnya adalah agent of change. Ironis memang, ketika mahasiswa diajak untuk aksi unjuk rasa memperjuangkan kepentingan rakyat tertindas mereka tak mau, namun untuk tawuran saling serang sesama mahasiswa mereka amat semangat. Kita harus mengingat kembali siapa yang bisa menumbangkan rezim-rezim otoriter, angkatan 66 s/d reformasi 98 adalah kita mahasiswa yang bisa melakukannya. Kalau calon-calon pemimpin bangsa seperti ini bagaimana nasib bangsa ini selanjutnya. Ketika Asing sudah berlahan masuk ke negeri ini dan sedikit demi sedikit menguasai aset-aset negeri ini apa yang bisa kita lakukan, lama-lama anak cucu kita bakalan ngontrak di negeri sendiri.

Semua mahasiswa harus kembali memahami peran mereka saat ini. Apakah yang harus dilakukan oleh seorang mahasiswa. Apakah tindakan kita sudah sesuai peran yang kita emban saat ini. Kita mendapatkan peran sebagai mahasiswa tidaklah lama paling 4 sampai 5 tahun saja. Kemudian apa yang menjadikan mahasiswa berat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamanya di SMA seperti main, ngegame, pacaran, dan melakukan kegiatan yang sama sekali tidak menjamin masa depan mereka apalagi masa depan bangsa dan negaranya. Padahal kalo hitung-hitungan secara matematis waktu kuliah dan waktu kosong selama satu semester adalah 40 : 60. Jadi menurutku kebangetan lah kalo sampai mahasiswa itu ga bisa jadi Aktivis. Apalagi waktu yang tersisa banyak itu malah digunakan untuk ikut ekstrakulikuler pacaran. Sungguh sangat kasihan getho loh…, sekarang bisa ketawa, senyum-senyum, tetapi bagaimana besok dan selanjutnya…??? Jawaban ada di tangan anda masing-masing.